Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Ibadah Qurban Dari Sudut Pandangku Sebagai Muslim Indonesia

Kata qurban yang kita pahami berasal dari bahasa Arab, artinya mendekatkan diri. Sedangkan Ibadah qurban maksudnya adalah menyembelih binatang ternak sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Arti ini dikenal dalam istilah Islam sebagai udhiyah. Udhiyah secara bahasa mengandung dua pengertian, yaitu kambing yang disembelih waktu Dhuha dan seterusnya, dan kambing yang disembelih di hari ‘Idul Adha. Adapun makna secara istilah, yaitu binatang ternak yang disembelih di hari-hari Nahr dengan niat mendekatkan diri (taqarruban) kepada Allah dengan syarat-syarat tertentu (Syarh Minhaj).

Menurut Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk menyatukan dua ibadah agung ini, yaitu shalat dan menyembelih kurban, sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

"Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan kurban” (QS. Al-Kautsar: 2)

Ibadah qurban menurut jumhur ulama hukumnya adalah sunnah muaqqadah sedang menurut mazhab Abu Hanifah hukumnya adalah wajib. Wajib terutama untuk umat muslim yang bertaqwa. Kenapa? Karna hanya ibadah qurban yang dilakukan oleh umat muslim yang bertaqwa yang akan diterima oleh Allah. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur'an. 

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS Al-Maaidah 27)

Selain untuk memperkuat habluminallah, ibadah qurban juga akan mempererat habluminannas. Sudah pasti qurban yang disembelih akan dibagikan kepada tetangga kita, terutama yang tidak mampu. Siapa pun yang berqurban bukan hanya menerima pahala yang berlimpah dari Allah, tetapi juga menerima kasih sayang dari sesama manusia. Juga akan tercipta hubungan silaturrahmi yang lebih erat lagi. 

“Sepertiga untuk memberi makan keluarganya, sepertiga untuk para tetangga yang fakir miskin dan sepertiga untuk disedekahkan kepada yang meminta-minta” (HR Abu Musa Al-Asfahani).

Semoga Idhul Adha tahun ini, kita semua dimasukkan ke dalam golongan umat Muslim yang bertaqwa dan diterima qurbannya. Dan kita juga selalu bisa menjadi orang yang menemukan hikmah berbagi dalam Idul Adha, agar  habluminannas semakin kuat dan indah.

Bukti Adanya Siksa Kubur

Foto ini adalah seorang pemuda berusia 18 tahun yang meninggal di salah satu rumah sakit di Oman. Mayat pemuda tersebut digali kembali dari kuburnya setelah 3 jam di makamkan yang di saksikan oleh ayahnya. Pemuda tersebut meninggal dirumah sakit dan setelah di mandikan di makamkan secara islam di hari itu juga.

Tetapi setelah pemakaman ayahnya merasa ragu atas diagnosa dokter dan menginginkan untuk di identifikasi kebenaran penyebab kematiannya. Seluruh kerabat dan teman-temannya begitu terkejut saat mereka melihat kondisi mayat. Mayat tersebut begitu berbeda dalam 3 jam. Dia berubah tampak ke abu-abuan seperti orang yang sudah tua.


Dengan tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras dan dengan tulang-tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga ujung-ujungnya sehingga menekan kebadannya. apakah benar ini adalah siksa kubur itu benar adanya?

Seluruh badan dan mukanya memar. Matanya yang terbuka memperlihatkan ketakutan, kesakitan dan keputus-asaan. Darah yang begitu jelas menandakan bahwa pemuda tersebut sedang mendapatkan siksaan yang amat berat. Pada akhirnya ayahnya mengakui bahwa anaknya ini sering melalaikan solatnya.

Sebenarnya adanya azab kubur itu sesuatu yang sudah qath’i dan pasti sifatnya. Tidak perlu dipermasalahkan lagi. Dalam banyak ayat Al-Quran Al-Kariem dan juga tentunya hadits Rasulullah SAW, kita mendapatkan bahwa dalil yang jelas dan qath’i. Demikian juga Rasulullah SAW me-nyebut² azab kubur secara tegas, jelas dan terang.

Ayat² Al Qur'an:
Ayat Pertama Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Quran Al-Kariem tentang adanya azab kubur. “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, : “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. (QS. Al-Anam : 93)

Ayat berikutnya adalah : “Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (QS. At-Taubah : 101)
Di ayat ini teramat jelas bahwa Allah SWT menyiksa orang zalim itu dua kali, yaitu pada alam kubur dalam kematiannya yaitu setelah nyawa dicabut hingga menjelang hari kiamat. Dan berikutnya adalah siksaan setelah hari kiamat yaitu di neraka.

Demikian juga yang Allah SWT lakukan kepada Fir’aun yang zalim, sombong dan menjadikan dirinya tuhan selain Allah SWT. Allah SWT mengazabnya dua kali, yaitu di alam kuburnya dan di akhirat nanti. Di alam kuburnya dengan dinampakkan kepadanya neraka pada pagi dan petang. Ini merupakan siksaan sebelum dia benar-benar dijebloskan ke dalamnya dan terjadinya pada alam kuburnya.
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. : “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. (QS. Al-Mu’min : 46)

Ayat ini lalu dikuatkan juga dengan ayat lainnya yang juga menyebutkan ada dua kali kematian, yaitu kematian dari hidup di dunia ini dan kematian setelah alam kubur. Mereka menjawab : “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali , lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan untuk keluar ?” (QS. Al-Mu’min : 11)

Sumber : Harun Al-Rasyid
Hadits² shahih pun secara jelas menyebutkan adanya azab qubur. Sehingga tidak mungkin bisa ditolak lagi kewajiban kita untuk meyakini keberadaan azab kubur itu, sebab bila sudah Al-Quran Al-Kariem dan hadits shahih yang menyatakannya, maka argumentasi apa lagi yang akan kita sampaikan ?

Dalil Hadits Shahih:
Dalam hadits yang pertama kami sampaikan tentang azab kubur ini, haditsnya masih amat kuat berhubungan dengan ayat Al-Quran Al-Kariem. Yaitu firman Allah SWT dalam Al-Quran Al-Kariem : Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS> Ibrahim : 27)

Sebuah lafaz dalam ayat di atas menyebutkan tentang : ucapan yang teguh yang dalam bahasa Al-Quran Al-Kariem disebut dengan “al-qouluts-tsabit”. Dijelaskan oleh Rasulullah SAW bahwa itu adalah tentang pertolongan Allah SWT ketika seseorang menghadapi azab kuburnya. Dari Al-Barra’ bin Azib dari Rasulullah SAW bahwa ketika seorang mukmin didudukkan di dalam kuburnya, didatangilah oleh malaikat, kemudian dia bersyahadat tiada tuhan kecuali Allah SWT dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah SAW, maka itulah makna bahwa Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh . (HR. Bukhari kitab Janaiz Bab Maa Ja'a Fi azabil Qabri hn. 1280)

Ada sebuah doa yang dipanjatkan oleh beliau dan diriwayatkan dengan shahih dalam shahih Al-bukhari. Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW berdoa dalam shalat, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari azab kubur” (HR. Bukhari kitab azan bab doa sebelum salam hn. 789)

Dalam kitab shahihnya itu, Al-Bukhari pun membuat satu bab khusus azab kubur. Dari Aisyah ra bahwa seorang wanita yahudi mendatanginya dan bercerita tentang azab kubur dan berkata, “Semoga Allah SWT melindungimu dari azab kubur”. Lalu Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang keberadaan azab kubur itu. Rasulullah SAW menjawab, “Ya, azab kubur itu ada”. Aisyah ra berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan shalat kecuali beliau berlindung kepada Allah SWT dari azab kubur”. (HR. Bukhari kitab Janaiz Bab Maa Ja’a Fi azabil Qabri hn. 1283)

Dalam kitab shahihnya itu juga , Al-Bukhari membuat satu bab khusus tentang berlindung kepada Allah SWT dari azab kubur.
Dari Musa bin ‘Uqbah berkata bahwa telah menceritakan kepada anak wanita Khalid bin Said bin Al-Ash ra bahwa dia telah mendengar Rasulullah SAW berlindung kepada Allah SWT dari azab kubur. (QS. (HR. Bukhari kitab Janaiz Bab At-Ta'awwuz min azabil Qabri hn. 1287)

Dari Aisyah ra bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah SAW tentang apakah manusia diazab di dalam kubur, lalu Rasulullah SAW menjawab, “Aku berlindung kepada Allah SWT dari hal itu (azab kubur). (HR. Bukhari kitab jum’at bab berlindung kepada Allah SWT dari azab kubur ketika gerhana hn. 991, 996)

Sumber : Harun Al-Rasyid
Kesimpulan : Umat Islam sejak masa Rasulullah SAW hingga hari ini telah berijma’ (bersepakat) bahwa azab kubur itu adalah sesuatu yang pasti adanya. Sehingga mereka yang mengingkarinya hanya dua kemungkinannya. Pertama, mereka kurang dalam dan luas dalam mempelajari ayat dan hadits. Kedua, mereka tahu ada dalil dan nash yang sharih tapi mengingkarinya.

Semoga kita semua termasuk orang² yang senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT dari azab kubur dan api neraka. Amin.

Sumber : Motivator Indonesia

Hikmah Berbagi Dalam Idul Adha

Idul Adha merupakan bulan yang baik diantara bulan² baik lainnya. Pasalnya dibulan ini umat manusia dari berbagai belahan dunia melakukan rukun Islam yang kelima, yaitu ibadah haji. Tak peduli kaya / miskin, hitam / putih, pejabat / rakyat, semua menggunakan pakaian yang sama dan melaksanakan ibadah yang sama kepada Allah semata.

Pada hari itu juga seluruh umat muslim dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah 2 reka'at. Dan juga menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Selanjutnya daging tersebut dibagi²kan kepada tetangganya yang kurang mampu. Dari anjuran tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwa kita harus senantiasa berbagi terhadap sesama, terlebih kepada orang yang kurang mampu yang berada di sekitar kita.

Anjuran tersebut bermula ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih anaknya yang tak lain adalah Nabi Ismail. Memang berat, karena sebelumnya Nabi Ibrahim telah menunggu lama untuk mendapatkan seorang anak dan setelahnya diperintahkan untuk membunuh anak tersebut. Tapi dengan keyakinan bahwa semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah (dengan cara apapun atas kehendak-Nya), akhirnya dengan penuh ketaqwaan Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah. Dan atas ketaqwaan Nabi Ibrahim, Allah menggantikan posisi Nabi Ismail (yang hendak disembelih) dengan seekor domba.

Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109. - Pesantren Virtual [dot] com

Nabi Muhammad SAW, setiap Idul Adha membeli 2 ekor domba gemuk, bertanduk dan berbulu putih bersih. Setelah mengimami sholat dan berkhutbah, beliau melaksanakan sendiri prosesi qurban. Saat domba pertama dibaringkan untuk disembelih, beliau berkata "Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad dan ummat Muhammad", lalu menyembelih hewan itu. Kemudian mengambil domba satunya, membaringkannya dan berdoa "Ya Allah, terimalah ini dari umatku yang tidak mampu ber-qurban".(HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, Al-Turmudzi, dan lain-lain). Sebagian daging untuk Rasulullah dan keluarga beliau, sedangkan sisanya semuanya dibagikan kepada orang-orang miskin. - Adeshendra [dot] com.

Melalui ibadah qurban, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita semua, agar kita lebih memperhatikan, peduli, dan mau berbagi kepada sesama manusia, terlebih lagi kepada orang² yang kekurangan. Sedangkan Nabi Ibrahim beserta Nabi Ismail mengajarkan kita tentang sebuah ketaqwaan kepada Allah, bahwa semua diberikan oleh Allah dan akan diminta kembali oleh Allah dengan cara apa saja, dan Allah akan senantiasa mengganti semua yang diambil-Nya dengan sesuatu yang lebih baik.

Jadi pada hari Idul Adha mari kita perbaiki habluminallah dengan melaksanakan rukun Islam yang kelima (bagi yang mampu) dan atau berkurban dengan keikhlasan hati untuk memperbaiki ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dan mari kita perbaiki habluminannas dengan berbagi (daging kurban) kepada saudara² kita, terutama yang tidak seberuntung kita.

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik". (Al Hajj [22]: 37).

Bilangan Raka’at Shalat Tarawih dan Cara Melaksanakannya


Rasulullah Saw menganjurkan kepada kita untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak sholat. Berikut adalah bilangan raka’at shalat tarawih dan cara melaksanakannya menurut sunnah Rasulullah Saw.

1. Bilangan raka'at shalat Tarawih Rasulullah saw. adalah 11 raka'at, yaitu 4 raka'at, kemudian 4 raka'at, kemudian 3 raka'at witir.

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا

Rasulullah saw. tidak pernah mengerjakan shalat pada bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan lebih dari sebelas raka'at. Beliau shalat empat raka'at, maka janganlah engkau tanyakan tentang baiknya dan lamanya beliau berdiri. Selanjutnya beliau shalat lagi empat raka'at, maka janganlah engkau tanyakan tentang baiknya dan lamanya beliau berdiri. Selanjutnya beliau shalat tiga raka'at. (Hadits riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzy, dan Nasa'i dari Aisyah, istri Rasulullah saw.)

2. Dalam riwayat tersebut hanya disebutkan bilangannya saja, tanpa menyebutkan cara yang dilakukan Rasulullah saw. dalam shalat Tarawih 4 raka'at, 4 raka'at dan 3 raka'at itu. Akan tetapi dalam hadits lain dari 'Aisyah yang juga diriwayatkan oleh Muslim disebutkan caranya, yaitu:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ

Dari Aisyah, sungguh Rasulullah saw. dahulu biasa shalat antara sesudah shalat 'Isya' sampai datangnya waktu Shubuh sebelas raka'at dan setiap dua raka'at beliau salam.

3. Dari uraian 'Aisyah pada point 2 tersebut kemudian disimpulkan atau dipahami, bahwa shalat Lail maupun Tarawih 8 raka'at itu dilakukan 2 termin atau 2 tahap. Yaitu termin pertama 4 raka'at dengan cara 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat lama. Kemudian termin kedua 4 raka'at lagi dengan cara 2 raka'at salam, 2 raka'at salam, lalu istirahat lama. Kemudian 3 raka'at witir. Pemahaman ini sesuai dengan hadits Ibnu 'Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Nasa'i :

كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ فَتَوَضَّأَ وَاسْتَاكَ وَهُوَ يَقْرَأُ هَذِهِ الْآيَةَ حَتَّى فَرَغَ مِنْهَا "إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ" ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ عَادَ فَنَامَ حَتَّى سَمِعْتُ نَفْخَهُ ثُمَّ قَامَ فَتَوَضَّأَ وَاسْتَاكَ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ فَتَوَضَّأَ وَاسْتَاكَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَأَوْتَرَ بِثَلَاثٍ

"Saya dulu pernah bermalam di rumah Nabi saw. lalu beliau bangun malam, lalu wudhu' dan bersiwak, lalu baca ayat "inna fi khalqissamaawaati ... (Ali 'Imran:190), kemudian beliau shalat 2 raka'at, kemudian kembali ke tempatnya lalu tidur sampai aku dengar suara dengkurannya. Kemudian beliau bangun, lalu wudhu' dan bersiwak kemudian shalat 2 raka'at, kemudian tidur, kemudian bangun, lalu wudhu' dan bersiwak dan shalat 2 raka'at dan witir 3 raka'at."

4. Sahabat Ibnu Abbas juga menyebutkan lebih jelas lagi pada hadits riwayat Nasa'i tentang hal yang sama yaitu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ وَيُوتِرُ بِثَلاَثٍ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ

"Dahulu Rasulullah saw. biasa shalat lail 8 raka'at dan witir 3 raka'at dan 2 raka'at shalat sebelum shubuh."

Dengan penjelasan hadits Aisyah dan Ibnu Abbas tersebut di atas, maka kita mendapatkan kepastian cara melakukan 4 raka'at yang dimaksudkan oleh hadits Aisyah itu, yaitu 4 raka'at adalah termin atau tahap, dan setiap tahap 4 raka'at itu cara melakukannya adalah 2 raka'at salam, 2 raka'at salam, lalu istirahat lama. Bahkan dalam istirahat itu Nabi saw. kembali ke tempat tidurnya, lalu tidur, seperti keterangan point 3.

5. Mengerjakan shalat Tarawih empat raka'at dapat juga dilakukan dengan duduk tasyahud awal setelah raka'at kedua, sesuai dengan hadits lain dari 'Aisyah yang juga diriwayatkan oleh Muslim :

... وَ كَانََ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ ...

" ... dan adalah (Nabi) bersabda : "Pada tiap-tiap dua raka't mengucapkan at-tahiyyat ...."

Dengan riwayat ini berarti bahwa bila suatu shalat dikerjakan 4 raka'at, setelah mengerjakan 2 raka'at pertama ada duduk tasyahud awal, bukan 4 raka'at langsung tanpa duduk tasyahud awal. Jadi mengerjakan shalat Tarawih 4 raka'at yang benar ialah dengan duduk tasyahud awal seperti shalat Zhuhur, 'Ashar atau 'Isya'.
Mengerjakan shalat Tarawih maupun Lail dengan 4 raka'at sekali salam tanpa duduk tasyahud awal tidak ada contohnya dari Nabi saw. Cara seperti itu hanya berdasarkan reka-reka akal.
Cara melakukan witir 3 raka'at salam dijelaskan dalam hadits 'Aisyah, yaitu :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ اِلاَّّ فِي آخِرِهِنَّ

"Dahulu Rasulullah saw. biasa witir 3 raka'at tanpa duduk kecuali pada raka'at terakhir." (HR Baihaqy)

Dengan hadits ini jelas, bahwa shalat witir 3 raka'at dikerjakan langsung tanpa duduk tasyahud awal, tetapi hanya sekali duduk tasyahud pada raka'at terakhir. Sedangkan mengerjakan witir 3 raka'at dengan 2 raka'at salam, kemudian ditambah satu raka'at lagi lalu salam, tidak terdapat dalam hadits-hadits yang shahih.

6. Mengerjakan shalat Tarawih maupun Lail dengan 4 raka'at sekali salam tanpa duduk tasyahud awal tidak ada contohnya dari Nabi saw. Cara seperti itu hanya berdasarkan reka-reka akal.

7. Cara melakukan witir 3 raka'at salam dijelaskan dalam hadits 'Aisyah, yaitu :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ اِلاَّّ فِي آخِرِهِنَّ

"Dahulu Rasulullah saw. biasa witir 3 raka'at tanpa duduk kecuali pada raka'at terakhir." (HR Baihaqy)

Dengan hadits ini jelas, bahwa shalat witir 3 raka'at dikerjakan langsung tanpa duduk tasyahud awal, tetapi hanya sekali duduk tasyahud pada raka'at terakhir. Sedangkan mengerjakan witir 3 raka'at dengan 2 raka'at salam, kemudian ditambah satu raka'at lagi lalu salam, tidak terdapat dalam hadits-hadits yang shahih.

Wallahu'alam Bish Showab...

Maraji'/Pustaka rujukan
  1. Majlisul A'la li Syu'unil Islamiyah: Al Muntakhab minas Sunnah, jilid V, Qahirah, tahun 1992.
  2. Abu Abdur Rahman, Ahmad bin Syu'aib an Nasa'i: Sunanun Nasa'i, juz III, hal 237, Darul Fikri, Beirut, tahun ...
  3. Nashiruddin al Albani: Irwaul Ghalil, fi takhriji ahaadiitsi manaaris-sabiil, jilid II, hal: 151, alMaktab al Islami, Beirut, tahun 1985
  4. Jamaluddin az Zaila'y: Nashbur-Raayah, jilid II, hal 158-159, Daarul Hadits, Qahirah, tahun 1995
  5. Abdullah bin Abdur Rahman al Bassam: Taudhihul ahkaam min Bulughil Maram, jilid II, hal 200-204, an Nahdhah al Haditsah, Makkah al Mukarramah, tahun 1994

Doa Niat Berpuasa Di Bulan Ramadhan


Melakukan segala sesuatu tentunya didasari dengan niat. Sama dengan berpuasa (di bulan Ramadhan) juga harus dengan niat. Meski cuma sekedar niat dalam hati, Allah juga udah bisa tau. Tapi alangkah (lebih) baiknya kalo niat itu kita ucapkan. Biasanya niat berpuasa dibaca setelah melakukan Sholat Tarawih. Kadang niat berpuasa di ucapkan dengan cepat pada saat selesai melakukan Sholat Tarawih berjama'ah di Masjid. Jadi untuk orang seperti aku ini kadang ga' yakin apakah lafadz yang aku ucapin udah  pas bacaannya ato belom. Akhirnya aku iseng aja nanya² sama mbah Google. Dan ini jawaban dari mbah Google.


Semoga bisa membantu. Dan selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amin.

Doa Berbuka Puasa Di Bulan Ramadhan


Sekedar sharing aja sich. Mungkin ada yang belom tau ato belom apal doa berbuka puasa. Ato mungkin juga ada yang masih ragu tentang bacaan yang paling tepat, karna selama ini cuma ngapalin dari denger radio / tv. Nah ini aku nemuin dalam bentuk tulisan arab dan tulisan latinnya lengkap dengan artinya.


Yang artinya : "Ya Allah, aku berpuasa untukmu, dan aku beriman kepada, dan dengan rizkimu aku berbuka"

 Tapi ternyata ketika Rasulullah SAW berbuka, beliau membaca doa ini :


Yang artinya : "Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah"

Sempat bingung juga sih, yang mana yang bener. Biar ga' bingung, sebagai referensi kamu bisa download ceramah Ust. Abu Ihsan di sini. Semoga bermanfaat. Selamat menunaikan ibadah puasa...

sumber : a piece of mine



 
Powered by Blogger